Program Studi Statistika (Prodi Statistika) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Indonesia (FMIPA UII) mengadakan webinar bertemakan “Industrial Statistics” pada Sabtu (9/4). Webinar tersebut diadakan secara daring melalui platform Zoom Meeting dan disiarkan di channel Youtube Prodi Statistika UII.

Read more

Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Badan Keahlian (BK) DPR RI menggelar diskusi terbatas bertema “Arah Kebijakan Hukum Perubahan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi”. Kegiatan yang dihelat secara luring dan daring terbatas pada Jumat (8/4) itu diadakan di Auditorium Prof. Dr. Abdul Kahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII. Pada acara diskusi terbatas ini hadir empat narasumber diantaranya adalah Dr. Lidya Suryani Widayati, S.H., M.H, Anang Zubaidi, S.H., M.H, Alan Fathan Gani, S.H., M.H., dan Dr. Ridwan, S.H., M.H.

Read more

Badan Keahlian (BK) DPR RI berkunjung ke Universitas Islam Indonesia (UII) pada Sabtu (8/4). Kunjungan yang bertempat di Auditorium Prof. Dr. Abdul Kahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII itu guna mendiskusikan hasil putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap UU No. 11 Tahun 2020 mengenai Cipta Kerja. UII memiliki ahli hukum tata negara yang dinilai dapat memberikan kontribusi dalam memperbaiki undang-undang tersebut. Hasil dari kedatangan ini adalah ditandatanganinya nota kesepahaman antara kedua belah pihak.

Read more

Mencari Jalan Menuju Allah

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UII (FMIPA UII) mengadakan kajian Jum’at pagi (8/4) bertemakan ‘Metode Memahami Sains dalam Al-Qur’an’ yang menghadirkan Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, S.Ag., M.Ag.

Mengawali materinya, ia mengatakan bahwa manusia merupakan makhluk yang berfikir. Menurut Abdul Mustaqim, tafsir ilmi merupakan sebuah kajian tafsir yang ingin menghubungkan antara teori-teori ilmiah dengan Al-Qur’an. Hal ini berdasarkan ayat Al-quran di Surat Fushilat ayat 53 yang artinya:

Read more

Sebagai forum kerja sama perguruan tinggi (PT) yang secara moral turut bertanggung jawab terhadap masalah bangsa, Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta se-Indonesia (BKSPTIS) merespons perkembangan mutakhir persoalan Pendidikan Tinggi dan Kebangsaan. BKSPTIS mengapresiasi aspek positif dari perkembangan tersebut, dengan tetap bersikap kritis.

Read more

Kasus Covid-19 di Indonesia kian menurun diikuti pelonggaran sejumlah aktivitas masyarakat oleh Pemerintah. Kabar baik ini mengiringi dinonaktifkan ISOTER UII yang berlokasi di Rusunawa (sisi Selatan) Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang km 14.5, Besi, Sleman, pada Jumat (8/4).

“ISOTER UII sebagai saksi bersama kegiatan kemanusiaan dalam rangka mengatasi pandemi Covid-19,” tutur Koordinator ISOTER UII, dr. Nur Aisyah Jamil, M.Sc. dalam acara penutupan dan farewell yang turut dihadiri jajaran pimpinan UII, Satgas Siaga Covid-19 UII serta para tenaga kesehatan yang selama ini terlibat.

dr. Nur Aisyah Jamil menyampaikan rasa syukur dan terimakasih kepada banyak pihak yang telah berperan dalam berjalannya ISOTER UII menghadapi gelombang ketiga Covid-19. Kurang lebih selama satu setengah bulan bersama-bersama berhasil merawat 40 pasien hingga mereka kembali dalam keadaan sehat wal afiat. Meski persiapan cukup singkat hanya 1-2 minggu, namun menurutnya kondisi ini masih lebih baik bila dibandingkan saat harus menghadapi gelombang kedua Covid-19.

“Segala usaha (peran yang dilakukan) tidak ada yang bisa membalasnya kecuali menjadi amal kebaikan di sisi Allah Swt. Atas nama pengelola mohon maaf sebesar-besarnya apabila selama interaksi ada hal-hal yang kurang berkenan,” tutur dr. Nur Aisyah Jamil yang juga sebagai Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan, dan Alumni Fakultas Kedokteran UII ini.

dr. Nur Aisyah Jamil berharap di masa mendatang ISOTER tidak dibuka kembali, “Tapi jika kondisi mengharuskan, maka kami berkomitmen untuk menghidupkan kembali ISOTER UII,” tandas Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan, dan Alumni Fakultas Kedokteran UII ini.

Senada dengan dr. Nur Aisyah Jamil, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya & Pengembangan Karier UII, Dr. Zaenal Arifin, M.Si. turut menyampaikan rasa terimakasih kepada seluruh pihak yang sudah berperan aktif dalam pengelolaan ISOTER UII. “Fasilitas ISOTER UII salah satu fungsi utamanya adalah membuat masyarakat nyaman,” tuturnya.

Lebih lanjut, Zaenal Arifin mengemukakan meskipun jumlah pasien pada gelombang ketiga jauh lebih rendah dibandingkan gelombang kedua, dengan tersedianya sebuah fasilitas yang memadai seperti halnya di ISOTER UII, dapat membuat masyarakat merasa aman.

Dalam kesempatannya, Zaenal Arifin juga menyampaikan harapannya agar pandemi Covid-19 lekas berakhir, dan selanjutnya ISOTER UII dapat resmi ditutup. “Saat ini kita hanya menonaktifkan, apabila dibutuhkan maka bisa diaktifkan kembali,” jelasnya.

Zaenal Arifin menambahkan, Satgas Covid-19 UII juga mewaspadai kenaikan kasus pasca mudik lebaran tahun ini. “Jika nantinya, tidak ada kenaikan kasus, maka artinya antibodi masyarakat Indonesia sudah baik,” tuturnya.

Harapan pandami Covid-19 lekas selesai juga terlontar dari perwakilan tenaga kesehatan yang turut bertugas di ISOTER UII, dr. Dwi Rizki Ananda. “Saya harap tidak ada gelombang lanjutan setelah omicron (varian Covid-19),” ujarnya.

Ia mengaku jika gelombang omicron kemarin jauh lebih terkendali daripada gelombang delta. “Dari tim tenaga kesehatan sendiri juga sudah memberikan kesediaan serta kesiapannya jika sewaktu-waktu kembali dibutuhkan dalam pengelolaan ISOTER UII,” imbuh dr. Dwi Rizki Ananda.

Selanjutnya, acara Penutupan dan Farewell ISOTER UII ditandai dengan penyerahan cinderamata secara simbolis kepada dua orang tenaga kesehatan, Hestia Dirgantari, A.Md. Kep. dari Rumah Sakit JIH dan Nandika Chindy Monica, A.Md. Kep. dari Rumah Sakit UII. Cinderamata disampaikan oleh Dr. Zaenal Arifin dan Dr. Drs. Rohidin, M.Ag. (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan & Alumni UII) didampingi dr. Nur Aisyah Jamil. (UAH/RS)

Setiap perguruan tinggi merupakan entitas unik. Mereka lahir di ruang sejarah yang berbeda dan dibangun di atas kesadaran yang beragam, meski ada irisan di sana. Karenanya, mengandaikan keseragamaan untuk semuanya, merupakan sesuatu yang melawan fakta.

Hanya saja, di lapangan, kesadaran ini tidak mengemuka, atau paling tidak, bukan yang menggema. Selalu saja ada upaya untuk melihatnya secara serupa.

Ini adalah tantangan setiap perguruan tinggi untuk kembali melakukan refleksi secara kolektif. Termasuk di antaranya adalah untuk menemukan dan menegaskan kembali misi yang diembannya. Cara paling sederhana adalah menyelisik nilai-nilai yang diyakini dan ditanamkan oleh para pendirinya. Universitas Islam Indonesia (UII) pun tidak berbeda.

 

Dua kubu

Tantangan itu semakin nyata ketika ideologi baru merasuk dalam pengelolaan perguruan tinggi. Beragam predikat disematkan, mulai neoliberalisme, birokratisasi, sampai dengan korporatisasi. Semuanya mengandung makna yang dipercaya tidak sejalan dengan idealisme atau misi asasi kehadiran sebuah perguruan tinggi.

Setiap kubu punya pendukung dan penggemarnya, dengan argumentasinya masing-masing. Meski, keduanya pun punya irisan dalam praktik. Tentu, meja diskusi dapat dibuka. Inilah asyiknya dunia akademik, ketika beragam perspektif mendapatkan tempat untuk diungkap ke ruang publik.

Jika ingin disederhanakan, pembeda kedua kubu ini adalah pada basis nilai yang melandasi gerak. Manifestasinya adalah beragam praktik yang sampai level tertentu dapat melupakan perguruan tinggi dari misinya.

Kita ambil beberapa ilustrasi. Kubu neoliberal mengagungkan persaingan tanpa ampun, sedangkan kubu ideal, lebih menghargai persandingan alias kemitraan. Tidak jarang, atas nama persaingan, publik pun dimanipulasi dengan beragam informasi yang diglorifikasi. Etos kecendekiawanan pun tidak lagi mendapatkan perhatian cukup, asal peringkat perguruan tetap di pucuk. Edukasi publik seakan tidak mendapatkan tempat lagi.

Pengamal kubu neoliberal menikmati birokratisasi sebagai bos, sedang yang satunya mengedepankan semangat kolegial yang dianggap tidak modern atau bahkan tidak sejalan dengan kemajuan. Tidak jarang, pemimpin penganut kubu yang kedua, dianggap pemimpin lemah karena tidak mau memaksa.

Tentu, bagi penganut setiap kubu, serangkaian kilah dapat disampaikan. Inilah indahnya otak manusia yang mampu memproduksi beragam argumentasi. Apalagi praktik kedua kubu ini ini tidak mempunyai garis demarkasi yang selalu tegas dan tidak saling bebas (mutually exclusive) sepanjang masa. Setiap perguruan tinggi, bisa jadi menjalankan praktik kedua kubu, meski nilai pijakannya tidak kompatibel. Sebagian mendasarkan pada desain sadar, sedang yang lain karena kekangan yang tak bisa dihindari.

 

Pilihan berlabuh

UII akan berlabuh di kubu mana? Ini sebetulnya pilihan sederhana dari dua pilihan, tetapi mempunyai implikasi rumit yang tidak semua perguruan tinggi sanggup menerimanya. Berlabuh di kubu idealisme secara normatif benar dan sulit mencari yang tidak sepakat. Tetapi, jika pilihan ini berimbas pada peringkat perguruan tinggi dengan basis sistem metrik yang cenderung abai pada keunikan, misalnya, keraguan mulai menggelayut.

Idealisme yang menjaga semangat kolegialitas seringkali dianggap lambat dalam merespons perubahan. Keputusan kolektif seringkali dinilai terlalu banyak melibatkan kompromi politis dari begaram aktor yang terlibat. Sebaliknya, pendekatan korporat dipercaya akan menjadikan kampus semakin melesat, meski tidak jarang diikuti dengan penggadaian sebagian akal sehat.

Apa jalan keluarnya? Ada masanya, refleksi jujur perlu dilakukan secara kolektif dengan tabula rasa yang kalis kepentingan sesaat dan menggantikannya dengan nilai-nilai asasi. Jika ini dilakukan, akan muncul beragam jalan tengah yang disepakati bersama dan sekaligus disadari risikonya.

Namun ada syarat mutlak untuk dapat melakukan refleksi yang bermakna. Termasuk di antaranya adalah dengan tidak menjebakkan diri pada narasi publik. Independensi dalam bersikap memang tidak selalu nyaman, apalagi di tengah gempuran praktik neoliberalisme yang dianggap sebagai norma baru. Tidak hanya di kancah nasional maupun internasional, tetapi juga di dalam kampus sendiri.

Mari, lihat diskursus ini, sebagai sebuah dinamika yang perlu disyukuri. Diskusi dengan hati dingin harus terus dilakukan untuk merespons perubahan yang tak henti dengan tetap merawat misi. Semoga Allah senantiasa memudahkan UII.

Tulisan ini sudah dimuat di UIINews ediri April 2022.

Melalui Podcast, Aufanida Ingin Mensyiarkan Ramadan

Fathiyatul Mudzkiroh, mahasiswi S1 Pendidikan Dokter Universitas Islam Indonesia (UII) terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) tingkat UII tahun 2022. Mahasiswi yang akrab disapa Tia ini ternyata menggunakan strategic approach untuk mengatur waktunya hingga bisa menggunakan potensi diri secara maksimal. “Capaian untuk Mawapres tidak dapat diraih hanya dalam 1-2 bulan saja,” ujarnya saat diwawancara pada Kamis (7/4).

Read more

Kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjalankan prinsip-prinsip syariah menjadi problem yang tidak kunjung tuntas. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya umat Islam di Indonesia yang apatis terhadap kegiatan ibadah.

Read more

Universitas Islam Indonesia (UII) terus memperkuat kerjasama dengan perguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara. Sebagaimana tergambar melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) pada Rabu (4/6). Penandatanganan MoU ini merupakan perpanjangan dari MoU yang sebelumnya sudah pernah disepakati pada tahun 2018. MoU diadakan secara daring dengan platform Zoom Meetings.

Dalam sambutannya, Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D menegaskan bahwa kerja sama diharapkan mampu memberikan manfaat khususnya dalam mobilitas internasional bagi sivitas akademika kedua universitas. “Kita berharap kerja sama ini bisa mencakup hal yang lebih luas lagi. Selain menyambung persaudaraan juga bisa mempererat hubungan keilmuan.” Ujarnya.

Read more