Kerjasama dengan otoritas keuangan di bidang perbankan menjadi salah satu perhatian UII. Hal ini mengingat pentingnya sektor keuangan perbankan sebagai penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Universitas tentunya juga memiliki tanggungjawab untuk turut mendukung kinerja otoritas keuangan negara. Sebagaimana tergambar dalam penandatanganan nota kesepahaman antara Universitas Islam Indonesia (UII) dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada hari Kamis (27/09) di Ruang Sidang Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito. Turut hadir pada acara tersebut Rektor UII Fathul Wahid, ST. M.SC. Ph.D., Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Dr. Halim Alamsyah beserta segenap jajarannya, Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia, Wakil Ketua BPH DSN MUI, dan segenap civitas akademika UII.

Read more

Keberanian membayangkan masa depan diperlukan untuk mendesain anak tangga menuju ke sana. Semakin konkret bayangan (imajinasi) yang diproduksi, semakin mudah anak tangga didesain. Namun, bayangan secara inheren bersifat abstrak. Di sini diperlukan kemampuan abstraksi yang memadai, yang dalam bahasa Alquran disebut albayan (QS Arrahman 55:4). Dalam bahasa lain, abstraksi ini salah satunya melalui proses konseptualisasi.

Salah satu bayangan dalam dunia pendidikan tinggi adalah munculnya istilah Universitas 4.0, yang dipercaya merupakan respons atas lahirnya Revolusi Industri 4.0. Universitas 4.0 adalah contoh mutakhir universitas bayangan (imagined university). Konseptualisasi istilah Universitas 4.0 yang beredar di Indonesia nampaknya tidak didasarkan pada imajinasi kontekstual yang memadai. Tidak jarang yang kita temukan adalah ‘salin-tempel’ konsep dari konteks lain.

Supaya tidak salah simpulan, sebelum meneruskan membaca, penting ditegaskan di depan, bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menolak hadirnya konsep Universitas 4.0. Tulisan ini mengundang diskusi kritis untuk tidak lepas dari konteks kita berpijak.

Pendorong dan Respons

Revolusi Industri 4.0 dianggap merupakan lanjutan dari tahapan sebelumnya, dari mekanisasi (1.0), produksi massal (2.0), sampai dengan komputer dan otomasi (3.0). Revolusi yang terakhir ini ditandai dengan sistem siber fisis (cyber fisikal systems) yang melebur teknologi dan mengaburkan batas antara aspek fisis, digital, dan biologis. Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence), misalnya, dapat contoh pengaburan batas ini. Beberapa teknologi penanda lain yang jamak disebut adalah komputasi awan (cloud computing) dan data raya (big data). Banyak juga yang kemudian mengaitkan Revolusi Industri 4.0 dengan era disrupsi.

Dalam banyak kesempatan, pemerintah, baik melalui Presiden Jokowi maupun menteri,  mendorong perguruan tinggi (PT) di Indonesia untuk merespons perkembangan yang bersifat disruptif ini dengan baik. Tidak ada yang salah dengan dorongan ini, dan memang diperlukan. Ilustrasi yang sering digunakan untuk menggambarkan era ini adalah muncunya perusahan kelas dunia dengan pendekatan yang anti arus utama. Facebook menjadi perusahaan media tapi tidak memroduksi konten; AirBnB menjadi perusahaan penyedia akomodasi tanpa kepemilikan properti; dan Uber menjadi penyedia layanan taksi namun zonder investasi armada. Intinya, gaya bisnis lama menjadi kedaluwarsa.

Terkait dengan respons di konteks PT, beragam konseptualisasi Universitas 4.0 beredar. Beberapa PT juga berbenah dengan beragam inisiatif, mulai dari perencanaan strategi besar, peninjauan ulang kurikukum dan metode pembelajaran, penyediaaan perpustakaan digital dan ruang kerja bersama (co-working space), dan penawaran kuliah jarak jauh dengan moda daring. Singkatnya, variasi respons ditemukan di lapangan. Beragam inisiatif tersebut dapat dianggap sebagai anak tangga menuju Universitas 4.0, meskipun masih bisa diperdebatkan.

Kontekstual dan Progresif

Pertanyaan besar yang perlu dijawab adalah apakah konseptualisasi Universitas 4.0 sudah tepat? Pertanyaan ini akan memantik debat panjang. Terlepas dari itu semua, nampaknya semua sepakat bahwa gaya lama dalam menjalankan PT tidak akan dapat merespons perubahan selera zaman. Perkembangan teknologi hanya salah satu pemicunya. Beberapa poin berikut penting untuk didiskusikan.

Pertama, apakah konseptualisasi Universitas 4.0 sudah kontekstual atau dibumikan ke kondisi mutakhir di Indonesia? Hal ini penting dilakukan supaya kita tidak latah, mengikuti arus, tanpa kontekstualisasi yang memadai. Kalau ingin melihat Indonesia dengan utuh, jangan hanya lihat kondisi di kota atau pulau yang selama ini menjadi pusat pembangunan. Kita perlu melihat sisi lain Indonesia yang jarang dilirik. Kita harus jujur akui bahwa pembangunan dan dampaknya belum merata. Formulasi respons perlu melihat keragaman konteks dengan bijak. Kebijakan nasional yang ‘gebyah uyah’ atau ‘pukul rata’ nampaknya perlu dikritisi bersama.

Kedua, meskipun gaya lama dianggap kedaluwarsa, namun misi suci PT, seperti menelurkan manusia paripurna yang mumpuni dan berwatak serta menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat perlu tetap dilestarikan. Jika tidak, jebakan pola pikir kapitalisme nirnilai dapat mudah merasuk. Hasilnya bisa jadi menjelma menjadi manusia pandai yang tuna sukma. Diskusi tetang nilai dan etika dalam konteks disrupsi nampaknya belum mendapatkan tempat yang memadai.

Ketiga, anak tangga yang dibangun menuju Universitas 4.0 harus bersifat progresif, tidak sporadis atau terserak. Anak tangga harus menuju kepada anak tangga lanjutan yang mengantarkan pada tingkat yang tinggi, buka anak tangga yang tersebar dengan resultante minimal. Di sini diperlukan orkestrasi inisiatif yang baik. Sebagai contoh, ketika teknologi informasi menjadi salah satu pendorong perubahan, sudah seberapa serius sisi ini didesain. Ekstrimnya, jika koneksi Internet saja masih membuat sakit kepala setiap hari, bagaimana kita bisa membangun layanan baru di PT?

Keempat, kebijakan pemerintah yang mendukung diperlukan. Sebagai contoh, PT didorong melakukan demokrasitasi pendidikan tinggi sehingga menjangkau sebanyak mungkin anak bangsa dengan bantuan teknologi informasi, dengan pendidikan jarak jauh. Tetapi ketika isu rasio dosen-mahasiswa konvensional masih menjadi patokan, gerak ke arah demokratisasi pendidikan tentu akan terbatasi. Energi dosen juga sudah seharusnya diarahkan ke arah pengembangan ilmu dan teknologi, dan tidak banyak tersita ke ranah administratif. Dalam hal ini, perlu ada terobosan kebijakan, yang tentu saja tidak boleh mengorbankan kualitas.

Kelima, memang betul ada kecenderungan bahwa ke depan banyak profesi yang akan sirna dan muncul profesi baru yang saat ini bahkan masih sulit diraba. Tetapi, dalam situasi apapun, manusia adalah pemegang kuncinya. Universitas 4.0 seharusnya juga memberi perhatian untuk mengembangkan kompetensi lulusan. The World Economic Forum mengidentifikasi kompetensi lulusan PT pada masa depan yang akan menjadikannya adaptif. Termasuk ke dalam kompetensi tersebut adalah kemampuan memecahkan masalah kompleks, pemikiran kritis, kreativitas, manajemen manusia, orientasi layanan, dan fleksibilitas kognitif. Pertanyannya: apakan PT sudah menyiapkan program intervensi sistematis untuk mengembangkan kompetensi lulusan ke arah sana?

Tulisan ini menghadirkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Pertanyaan kritis tersebut diharapkan dapat menghangatkan pemikiran para pemimpin PT dan memantik diskusi lanjutan yang produktif, untuk menghasilkan imaji baru. Niatnya adalah menjaga kehadiran PT tetap relevan dalam konteks dan pada zamannya. Semoga.

—–

Versi awal tulisan ini dimuat dalam Kolom Analisis Kedaulatan Rakyat, 30 Agustus 2018.

Teknologi terbarukan diprediksi semakin menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Hal inilah yang mendorong Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HMTS) UII menyelenggarakan seminar nasional “The Implementation of Renewable Technology for Acceleration of Infrastructure Development in Modern Area”.

Seminar yang diadakan pada hari Minggu (23/09) di Auditorium Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII, dihadiri juga oleh Wakil Dekan FTSP UII Dr. Ir. Kasam M.T dan civitas akademika di lingkungan FTSP UII. Pembicara yang hadir yaitu Ir. Novel Arsyad M.M (Human Capital and System Development Director PT. Wijaya Karya Tbk) dan Prof. Ir. Bambang Sunendar M.Eng.,Ph.D. (Guru Besar Institut Teknologi Bandung).

Read more

Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. mengajak segenap pimpinan di lingkungan UII Periode 2018-2022 untuk berani berimajinasi ke depan. Hal tersebut disampaikan saat membuka Rapat Kerja UII Tahun 2018 dengan tema Digitalisasi Universitas, Menguatkan Nilai, Menjulangkan Inovasi, Melebatkan Manfaat di Hotel Royal Ambarrukmo, pada Sabtu (22/9).

Read more

Dialog kebangsaan yang digelar pada pekan awal September 2018 adalah sebuah ikhtiar kami sebagai anak bangsa yang saat ini mengabdi di Universitas Islam Indonesia (UII) untuk ikut berandil dalam merawat tenun kebangsaan. Para pendiri bangsa ini adalah juga pembesut UII, yang dibuka di Jakarta, 40 hari sebelum proklamasi dikumandangkan. UII dan Republik ini lahir dari rahim yang sama. Indonesia dalam nama UII, tidak hanya berarti tempat, tetapi juga sifat. Begitu juga Islam dalam I yang pertama, tidak hanya bermakna penciri, tetapi juga sifat. Karenanya, saya sering memanjangkan UII sebagai ‘Universitas Islami Indonesiawi’, persis dengan artinya dalam bahasa Arab, Al-Jami’ah Al-Islamiyyah Al-Indunisiyyah, yang kedua sifatnya ditandai dengan ya’ nisbahRead more

Center Medical Islamic Activitity (CMIA), salah satu lembaga dakwah di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) menggelar Tabligh Akbar Big Bang 2018 dengan tema “Bersama Islam Menyongsong Kebangkitan Bangsa”. Kegiatan yang diselenggarakan pada Jum’at (21/09) di Auditorium Prof. K.H. Abdulkahar Mudzakkir UII, dihadiri oleh Ustadz Cahyo Ahmad Irsyad dan Ustadz Haikal Hasan.

Read more

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (FH UII) yang tergabung dalam Klinik Etik dan Hukum mengadakan Penyuluhan Hukum di depan 40 orang warga binaan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta. Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (22/9) ini diselenggarakan oleh FH UII bekerjasama dengan Komisi Yudisial Republik Indonesia (KY RI). Dalam kegiatan ini tiga orang mahasiswa Fakultas Hukum UII memberikan penyuluhan hukum mengenai proses penegakan hukum dan contemp of court.

Read more

Universitas Islam Indonesia (UII) dan Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU) bersepakat memperluas kerjasama dalam hal peningkatan kualitas Tridharma Perguruan Tinggi. Penandatanganan nota kesepahaman kerjasama dilakukan oleh Wakil Rektor Bidang Networking & Kewirausahaan UII Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D. dan Wakil Rektor III UMSU, Dr. Rudianto, M.Si. pada Jumat (21/9), di Restoran Bumbu Desa, Yogyakarta.

Read more

Universitas Islam Indonesia (UII) menerima kunjungan dari Universitas Kristen Maranatha dalam rangka studi banding pada Kamis (20/9), di Gedung Rektorat UII. Kunjungan kali ini fokus pada diskusi tentang senat di universitas, seperti dalam mengawal penerapan nilai di bidang akademik.

Read more

Meningkatkan pengetahuan mahasiswa dalam hal ilmu remediasi lingkungan, Prodi Teknik Lingkungan UII kembali menghadirkan pembicara dari Jepang dalam kuliah umum yang dilaksanakan pada Jumat (21/9) di Auditorium M. Natsir FTSP UII. Topik yang dijadikan pembahasan adalah Environmental Remediation yang dibawakan oleh Prof. Shunitz Tanaka (Hokkaido University).

Read more